Sabtu, 12 Maret 2011

Pengorbanan yang dianggap benar.

Setelah dewasa, saya
akhirnya memasuki usia
perkimpoian, dan secara
perlahan –lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini.
Di masa awal perkimpoian,
saya juga sama seperti ibu,
berusaha menjaga keutuhan
keluarga, menyikat panci dan
membersihkan lantai, dengan
sungguh-sungguh berusaha memelihara perkimpoian
sendiri. Anehnya, saya tidak merasa
bahagia ; dan suamiku sendiri,
sepertinya juga tidak bahagia. Saya merenung, mungkin
lantai kurang bersih, masakan
tidak enak. lalu, dengan giat
saya membersihkan lantai
lagi, dan memasak dengan
sepenuh hati. Namun, rasanya, kami berdua
tetap saja tidak bahagia. .

Hingga suatu hari, ketika saya
sedang sibuk membersihkan
lantai, suami saya berkata :
istriku, temani aku sejenak
mendengar alunan musik!
Dengan mimik tidak senang
saya berkata : apa tidak
melihat masih ada separoh
lantai lagi yang belum di pel ? Begitu kata-kata ini terlontar,
saya pun termenung, kata-
kata yang sangat tidak asing
di telinga, dalam perkimpoian
ayah dan ibu saya, ibu juga
kerap berkata begitu sama ayah.

Saya sedang
mempertunjukkan kembali
perkimpoian ayah dan ibu,
sekaligus mengulang kembali
ketidak bahagiaan dalam
perkawinan mereka.

Ada beberapa kesadaran
muncul dalam hati saya. Yang kamu inginkan ? Saya hentikan sejenak
pekerjaan saya, lalu
memandang suamiku, dan
teringat akan ayah saya …
Ia selalu tidak mendapatkan
pasangan yang dia inginkan
dalam perkimpoiannya, Waktu ibu menyikat panci
lebih lama daripada
menemaninya. Terus menerus mengerjakan
urusan rumah tangga, adalah
cara ibu dalam
mempertahankan
perkimpoian, ia memberi ayah
sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya,
sibuk mengurus rumah, ia
berusaha mencintai ayah
dengan caranya, dan cara ini
adalah mengerjakan urusan
rumah tangga.
Dan aku, aku juga
menggunakan caraku
berusaha mencintai suamiku. cara saya juga sama seperti
ibu, perkimpoian saya
sepertinya tengah melangkah
ke dalam sebuah cerita, dua
orang yang baik mengapa
tidak diiringi dengan perkimpoian yang bahagia. Kesadaran saya membuat
saya membuat keputusan
(pilihan) yang sama.

Saya hentikan sejenak
pekerjaan saya, lalu duduk di
sisi suami, menemaninya
mendengar musik, dan dari
kejauhan, saat memandangi
kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.

Saya bertanya pada suamiku :
apa yang kau butuhkan ?
Aku membutuhkanmu untuk
menemaniku mendengar
musik, rumah kotor sedikit
tidak apa-apa-lah, nanti saya
carikan pembantu untukmu,
dengan begitu kau bisa menemaniku! ujar suamiku.
Saya kira kamu perlu rumah
yang bersih, ada yang
memasak untukmu, ada yang
mencuci pakianmu ….dan saya mengatakan sekaligus
serentetan hal-hal yang
dibutuhkannya.
Semua itu tidak penting-lah!
ujar suamiku. Yang paling
kuharapkan adalah kau bisa
lebih sering menemaniku. Ternyata sia-sia semua
pekerjaan yang saya lakukan,
hasilnya benar-benar
membuat saya terkejut.
Kami meneruskan menikamti
kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata
dia juga telah banyak
melakukan pekerjaan yang
sia-sia, kami memiliki cara
masing-masing bagaimana
mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.

0 komentar:

Posting Komentar

PESAN SAYA..
Berkomentarlahh dengan baik..
Dukung dan Hargailah penulis blog ini..
Tinggalkan komentar anda..
Dan "INGAT BLOG SAYA BUKAN TEMPAT PROMOSII"..

Sering2 kunjungi blog saya.. Mksiih..
Catat..
Http://fuadliker.blogspot.com

Hati-hati dengan "EFEK SAMPING" dari gambar-gambar diblog ini, saya tidak bertanggung jawab :D

Popular Posts

 

Copyright © KOLEKSII PRIBADII FUAD EMPAT Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger